Menjenguk orang sakit

thumbnail-cadangan

Dari 'Aisyah RA istri Nabi SAW, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah suatu mushibah menimpa kepada seorang muslim kecuali dengan itu Allah menghapus dosa darinya, sekalipun hanya tercocok duri". [HR. Bukhari juz 7, hal. 2]

Dari Al-Harits bin Suwaid, ia berkata : ‘Abdullah bin Mas’ud berkata : Saya pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika itu beliau demam panas sekali, lalu saya mengusapnya dengan tangan saya dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau menderita demam yang panas sekali". Lalu Rasulullah SAW menjawab, "Ya, sesungguhnya aku menderita demam sebagaimana panasnya dua orang diantara kalian". Saya berkata, "Yang demikian itu apakah karena engkau mendapatkan dua pahala ?". Rasulullah SAW menjawab, "Benar”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang ditimpa penderitaan berupa sakit atau yang lainnya, kecuali dengan itu Allah menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya". [HR. Bukhari juz 7, hal. 6]

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Dia menurunkan pula obatnya”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 12]

Dari Usamah bin Syarik, ia berkata : Aku menyaksikan orang-orang ‘Arab gungung bertanya kepada Nabi SAW, “Apakah kami berdosa melakukan demikian ? Apakah kami berdosa melakukan demikian ?”. Maka Nabi SAW menjawab, “Wahai hamba Allah, Allah tidak mencatat dosa kecuali orang yang menjatuhkan kehormatan saudaranya. Maka itulah yang haram”. Lalu mereka bertanya, “Apakah kami berdosa apabila kami tidak berobat ?”. Nabi SAW menjawab, “Berobatlah kalian wahai hamba Allah, karena Allah SWT tidak menciptakan penyakit melainkan menciptakan pula obatnya, kecuali tua”. Mereka bertanya lagi, “Ya Rasulullah, dengan pemberian apa seorang hamba itu diberi yang paling baik ?”. Nabi SAW menjawab, “Akhlaq yang baik”. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1137, no. 3436]

Dari Jabir, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Setiap penyakit ada obatnya. Maka jika bertemu (cocok) obat itu dengan penyakitnya, sembuhlah orang yang sakit itu dengn idzin Allah ‘Azza wa Jalla". [HR. Muslim juz 4, hal. 1729, no. 69]

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Haq muslim atas muslim lainnya ada lima : 1. Menjawab salam, 2. Menjenguk orang sakit, 3. Mengantarkan janazah, 4. Memenuhi undangan dan 5. Mendo'akan orang yang bersin". [HR. Bukhari juz 2, hal. 70]

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Haq muslim atas muslim lainnya ada enam”. Ada shahabat yang bertanya, “Apa saja itu, ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “1. Apabila kamu bertemu dengannya berilah salam, 2. Apabila ia mengundangmu maka datangilah, 3. Apabila ia meminta nasehat kepadamu berilah nasehat, 4. Apabila ia bersin lalu membaca hamdalah, maka jawablah (Yarhamukallooh), 5. Apabila ia sakit jenguklah, dan 6. Apabila meninggal antarlah jenazahnya”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1705, no. 5]

Dari 'Ali, ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa menjenguk saudaranya sesama muslim, senantiasa ia berjalan di kebun surga sampai ia duduk. Kemudian apabila ia telah duduk maka ia diliputi oleh rahmat, jika menjenguknya itu diwaktu pagi maka tujuh puluh ribu malaikat akan mendo'akannya sampai sore, dan jika menjenguknya itu pada waktu sore maka tujuh puluh ribu malaikat akan mendo'akannya sampai pagi". [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 463, no. 1442]

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla akan berfirman besuk pada hari qiyamat, “Hai anak Adam, dahulu Aku sakit, tetapi kamu tidak mau menjenguk-Ku”. Orang itu bertanya, “Wahai Tuhanku bagaimana aku menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam ?”. Allah berfirman, “Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku si fulan sakit tetapi kamu tidak mau menjenguknya, tidak tahukah kamu seandainya kamu menjenguknya niscaya kamu mendapati-Ku di sisinya ?”. “Hai anak Adam, dahulu Aku minta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberi-Ku makan”. Orang itu bertanya, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu makan, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam ?”. Allah berfirman, “Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku si fulan minta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya makan, tidak tahukah kamu bahwa seandainya kamu memberinya makan niscaya kamu mendapati yang demikian itu (pahalanya) di sisi-Ku ?. Hai anak Adam dahulu Aku minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak mau memberi-Ku minum”. Orang itu bertanya, "Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu minum, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam ?". Allah berfirman, "Tidak tahukah kamu, hamba-Ku si fulan minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak mau memberinya minum. Ketahuilah seandainya kamu memberinya minum niscaya kamu mendapati yang demikian itu (pahalanya) di sisi-Ku". [HR. Muslim juz 4, hal. 1990, no. 43]

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

Rasulullah SAW meruqyah ?”. Tsaabit berkata, “Mau”. Anas berkata, “Alloohumma robban-naas mudzhibal baasi, isyfi antasy-syaafii laa syaafiya illaa anta syifaa-an laa yughoodiru saqoman” (Ya Allah Tuhannya seluruh manusia yang menghilangkan gangguan (penyakit), sembuhkanlah dia, Engkaulah Penyembuh, tidak ada penyembuh kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak kambuh lagi). [HR. Bukhari juz 7 hal. 24]

Dari ‘Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW ketika meruqyah beliau berdoa, “Imsahil baasa robban-naas biyadikasy-syifaa-u, laa kaasyifa lahu illaa anta” (Hilangkanlah penyakit ini wahai Tuhannya manusia, di tangan-Mu lah kesembuhan, tidak ada yang bisa menghilangkan penyakit kecuali Engkau)”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 24]

Dari Ibnu ‘Abbas RA, bahwasanya Rasulullah SAW datang kepada seorang laki-laki yang sedang sakit, beliau menjenguknya. Kemudian beliau mendo’akan, “Laa ba’sa thohuurun, in syaa Allah (Tidak apa-apa, sakit ini sebagai penyuci dosa-dosa)”. Lalu orang yang sakit itu menjawab,”Tidak, tetapi sakit panas ini bisa segera membawa orang tua ini mendatangi qubur”. Maka Nabi SAW menjawab, “Ya, kalau begitu”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 7].

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

Dari Anas RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah sekali- kali seseorang diantara kalian menginginkan mati karena kesusahan yang menimpanya. Dan jika ia terpaksa menginginkan mati, maka hendaklah dia mengucapkan, Allahumma ahyini ma kaanatil hayatu khairan li wa tawaffani idza kanatil wafatu khairan li “Ya Allah, berilah aku hidup selama hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku apabila mati itu lebih baik bagiku”.[HR. Bukhari juz 7, hal. 155]

Dari Hammam bin Munabbih, ia berkata : Ini adalah apa yang telah diceritakan oleh Abu Hurairah dari Rasulullah SAW kepada kami. Lalu ia menyebutkan beberapa hadits yang diantaranya. Dan Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh seseorang diantara kalian menginginkan mati, dan janganlah berdoa minta mati sebelum tiba waktunya. Karena apabila salah seorang diantara kalian mati, terputuslah semua amalnya, sedangkan orang mukmin itu tidaklah bertambah umurnya kecuali bertambah pula kebaikannya”. [HR. Muslim juz 4 : 2065, no. 13]

Dari 'Aisyah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya, dan barangsiapa yang benci bertemu dengan Allah, maka Allahpun benci beremu dengannya”. Lalu aku bertanya, "Ya Nabiyallah, apakah itu maksudnya benci kepada kematian ?. Kita semua membenci kematian". Beliau bersabda, "Bukan begitu, tetapi seorang mu’min apabila diberi khabar gembira dengan rahmat, keridlaan Allah dan surga-Nya, ia senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya. Dan sesungguhnya orang kafir apabila diberi khabar dengan siksa Allah dan murka-Nya, ia benci bertemu dengan Allah, maka Allah pun benci bertemu dengannya”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2065, no. 15]

Show comments
 

Catatan

Dari Jabir, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “(Yang membedakan) antara seseorang dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. [HR. Jama’ah, kecuali Bukhari dan Nasai, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 340]